This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 26 November 2017

Kepala Suku Kimbeli Kelompok KKB Selalu Mengancam Warga


Knpbrimikanews, Timika - Kepala suku Kimbeli Bapak Kamaniel Waker, mengakui jika selama ini ada ancaman dari Kelompok TPN/OPM terhadap warga, baik yang berada di Kimbeli, Utikini maupun Banti.

Bapak Kamaniel mengatakan bahwa, sebelum aparat keamanan datang untuk menyelamatkan warga di kampung kami Kimbeli, mereka (TPN/OPM) melakukan kekerasan terhadap warga seperti memukul warga, merampas handphone warga dan melakukan pemerkosaan serta hampir melakukan pembunuhan.

Bapak Kamaniel disini berhadapan langsung dengan kelompok TPN/OPM dengan tegas menantang mereka kalau mereka mau membunuh OYAME (orang rambut lurus dalam adat mereka) maka TPN/OPM harus bunuh Bapak Kamaniel terlebih dahulu.

“kamu bunuh saya dulu, baru bunuh Oyame, kalau tidak kita perang,” kata Bapak Kamaniel kepada TPN/OPM.

Bapak Kamaniel juga menjelaskan bahwa, kalau mereka (TPN/OPM) tersebut juga adalah keluarganya, Bapak Kamaniel sudah siap angkat panah kalau mereka berani melakukan pembunuhan kepada OYAME.

Sebelumnya para OYAME ini ditampung oleh Bapak Kamaniel didalam rumahnya, karena mendapatkan kekerasan dan ancaman dari TPN/OPM. Beberapa hari terisolasi, para warga ini bergabung baik dari warga asli papua maupun pendatang (Oyame) di rumah Bapak Kamaniel, mereka makan bersama, mereka makan apa yang tersisa di kampung karena beberapa hari sebelumnya wilayah Utikini, Kimbeli dan Banti dikuasai Kelompok TPN/OPM.


Setelah aparat keamanan menyelamatkan mereka dari terisolasi yang dilakukan oleh TPN/OPM, Bapak Kamaniel bersama warganya saat ini tingal di penampungan sementara di Kota Timika, di Gedung Eme Neme Yauware.
Share:

Mayoritas Anak-anak Korban Penyanderaan KKB di Papua Alami Trauma






Knpbtimikanews, Timika - Hasil rapid assessment yang dilakukan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial menunjukkan bahwa para pengungsi yang saat ini ditampung di Mimika mengalami cemas dan trauma khususnya anak-anak.


“Anak-anak ketakutan mendengar suara keras seperti suara teriakan dan mereka akan segera berlari,” ujar Koordinator LDP Milly Mildawati di tempat pengungsian Eme Neme Yauware, Sabtu (25/11).


Pengalaman yang dialami anak-anak selama penyanderaan ketakutan mendengar suara tembakan, kekurangan pasokan makan karena akses keluar masuk desa dijaga oleh kelompok kriminal bersenjata.


Menurutnya, kecemasan dan rasa takut itu dipicu oleh pengalaman yang dialami anak-anak selama penyanderaan. Dalam penjagaan ketat KKB, mereka sering kali mendengar suara tembakan.



“Setelah dilakukan LDP, warga merasa tenang di pengungsian, setelah sebelumnya selalu merasa ketakutan dalam masa penyanderaan,” ujar Milly.



Setelah aparat TNI dan Polri berhasil mengevakuasi warga dari Kampung Banti dan Kimbeli di Distrik Tembagapura, Kementerian Sosial segera menurunkan Tim LDP ke lokasi pengungsian untuk melakukan pendampingan kepada korban penyanderaan.


Tim LDP terdiri dari Tim Kementerian Sosial RI, Sakti Peksos Kab. Mimika, Guru, Relawan 1000 guru untuk Papua, Pramuka, PMI, Tagana dan Relawan Pekerja Sosial.


“Setelah dilakukan LDP, warga merasa tenang di pengungsian, setelah sebelumnya selalu merasa ketakutan dalam masa penyanderaan,” ujar Milly.


Kebutuhan makan tercukupi, lanjut Milly, setelah selama hampir dua minggu kekurangan makan karena akses keluar masuk desa dijaga oleh Kelompok Bersenjata.


Untuk pemenuhan kebutuhan makan, disesuaikan dengan kebiasaan makan sehari-hari di pegunungan, seperti ubi-ubian, ayam dan lalapan.


Warlex (9 tahun) merasa senang dapat mengungkapkan perasaannya. “Saya sangat gembira bisa menulis apa yang saya rasakan. Saya ingin segera pulang ke rumah agar bisa main bola dengan teman-teman.”


Upacara bakar batu yang merupakan kearifan lokal dilakukan sebagai simbol/bentuk rasa syukur dari penerimaan masyarakat Timika terhadap pengungsi yang berasal dari Desa Banti dan Kimbeli.


“Kegiatan diikuti oleh semua Penpengungsi dan bisa mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka, dan juga memberikan rasa tenang karena sudah secara adat diterima oleh masyarakat Timika,” pungkas Milly
Share:

Mayoritas Korban yang Disandera Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua Alami Cemas Berlebihan


Knpbtimikanews, Timika - Hasil rapid assessment yang dilakukan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial menunjukkan bahwa para penyintas mengalami cemas dan rasa takut berlebihan.

“Anak-anak ketakutan mendengar suara keras seperti suara teriakan dan mereka akan segera berlari,” ujar Koordinator LDP Milly Mildawati di tempat pengungsian Eme Neme Yauware, Sabtu (25/11/2017).

Pengalaman yang dialami anak-anak selama penyanderaan ketakutan mendengar suara tembakan, kekurangan pasokan makan karena akses keluar masuk desa dijaga oleh kelompok kriminal bersenjata.

Sedikitnya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dilarang keluar dari kampung itu oleh kelompok kriminal bersenjata sejak Kamis (9/11) lalu.

Sedikitnya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dilarang keluar dari kampung itu oleh kelompok kriminal bersenjata sejak Kamis (9/11) lalu.

Setelah aparat TNI dan Polri berhasil mengevakuasi warga dari Kampung Banti dan Kimbeli di Distrik Tembagapura, Kementerian Sosial segera menurunkan Tim LDP ke lokasi pengungsian untuk melakukan pendampingan kepada korban penyanderaan.

Tim LDP terdiri dari Tim Kementerian Sosial RI, Sakti Peksos Kab. Mimika, Guru, Relawan 1000 guru untuk Papua, Pramuka, PMI, Tagana dan Relawan Pekerja Sosial.

“Setelah dilakukan LDP, warga merasa tenang di pengungsian, setelah sebelumnya selalu merasa ketakutan dalam masa penyanderaan,” ujar Milly.

Kebutuhan makan tercukupi, lanjut Milly, setelah selama hampir dua minggu kekurangan makan karena akses keluar masuk desa dijaga oleh Kelompok Bersenjata.

Untuk pemenuhan kebutuhan makan, disesuaikan dengan kebiasaan makan sehari-hari di pegunungan, seperti ubi-ubian, ayam dan lalapan.

Warlex (9 tahun) merasa senang dapat mengungkapkan perasaannya. “Saya sangat gembira bisa menulis apa yang saya rasakan. Saya ingin segera pulang ke rumah agar bisa main bola dengan teman-teman.”

Upacara bakar batu yang merupakan kearifan lokal dilakukan sebagai simbol/bentuk rasa syukur dari penerimaan masyarakat Timika terhadap penyintas yang berasal dari Desa Banti dan Kimbeli.

“Kegiatan diikuti oleh semua Penyintas dan bisa mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka, dan juga memberikan rasa tenang karena sudah secara adat diterima oleh masyarakat Timika,” pungkas Milly
Share:

Sabtu, 25 November 2017

Mematikan Gerakan KKB Untuk Kesejahteraan Masyarakat Papua di Tembagapura


Knpbtimikanews, Jayapura - Anggota Komisi I DPR, Dave Akbarshah Fikarno atau Dave Laksono menilai, masalah kesejahteraan menjadi penyebab kelompok separatis di Papua masih terus bermunculan.

Menurut dia, selama masyarakat Papua belum merasakan keadilan, maka gerakan-gerakan semacam itu akan terus ada.

“Jadi cara untuk mematikan gerakan tersebut adalah memastikan masyarakat Papua mendapatkan pelayanan publik yang optimal dan merasakan kesejahteraan dan kemerdekaan Indonesia,” kata Dave di Kompleks Parlemen, Jumat (24/11/2017).

Ia menambahkan, pemerintah harus terus-menerus mengintensifkan ruang dialog dengan masyarakat dan tokoh-tokoh setempat.

Hal itu dibarengi dengan terus memberikan kinerja yang optimal, melakukan pembangunan infrastruktur, sarana-sarana pendidikan, hingga lapangan pekerjaan.

Namun, ia menilai, langkah pemerintah sudah tepat untuk tak memenuhi tiga tuntutan yang sempat diminta oleh kelompok bersenjata.

Terlebih salah satu tuntutannya adalah agar pemerintah menyetujui referendum.

“Oh sudah sangat tepat karena Papua adalah bagian dari NKRI dan sudah tidak bisa didebatkan lagi,” tutur Politisi Partai Golkar itu.

Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar sebelumnya telah melakukan mediasi terhadap kelompok bersenjata. Bahkan upaya mediasi sampai melibatkan kepala suku, tokoh adat dan agama.

Namun, usaha negosiasi tersebut tidak menemukan titik temu, sebab kelompok bersenjata meminta tuntutan yang tidak masuk akal dan sulit dipenuhi.

Pertama, bubarkan Freeport. Kedua, militer Indonesia harus ditarik keluar dari Papua dan diganti dengan pasukan Keamanan PBB.


Ketiga, Pemerintah Indonesia harus menyetujui pemilihan bebas atau referendum. Artinya rakyat Papua bisa menentukan nasib sendiri.
Share:

Rabu, 22 November 2017

KKB : Natalius Pagai Hanya Cari Sensasi di Media


Knpbtimikanews, Timika – Juru Bicara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Yason Sambon Angkat bicara soal tanggapan Natalius Pigai terkait masalah Tembagapura yang saat masih memanas.

Ham dalam hal ini Natalius Pigay sebenarnya tidak mendukung Kemerdekaan Papua dan Natalius Pigay hanya ingin mencari sensasi karena akan maju pada Pilgub Tahun 2018 mendatang.

“Kami tau apa yang dimaksud oleh Natalius Pigay, dia hanya mencari sensasi karena ingin maju jadi Calon Gubernur Papua dan Natalius Pigay itu tidak mengerti apa itu arti perjuangan Papua Merdeka,”tutur Yason Sambon

Yason menambahkan Natalius Pigai jangan mengatas namakan KKB untuk mencari sensasi di Masyarakat Papua, karena apa yang dilakukan itu tidak akan menjadi pedoman buat KKB dukung Natalius Pigai jd Gubernur Papua.


“Kami akan berjuang sendiri tanpa minta dukungan siapapun, dan disini kami tegaskan bahwa jangan mengatasnamakan KKB untuk mencari nama atau sensasi di Papua,”pungkas Yason Sambon.
Share:

Minggu, 19 November 2017

Dubes Inggris Moazzam Malik, Papua” Final Bagian Dari NKRI



Knpbtimikanews, Jayapura – Pemerintah Inggris melalui Duta Besarnya Moazzam Malik mengungkapkan bahwa Tanah Papua adalah bagian dati Negara Kesaruan Republik Indonesia (NKRI).

Malik menjelaskan, kebijakan pemerintah Inggris sudah jelas mendukung persatuan Indonesia dan Papua sudah mutlak bagian dari NKRI. Walaupun ada salah satu tokoh OPM Benny Wenda meminta suaka dan sudah dijadikan warga Negara Inggris yang tinggal di Kota Oxford.

 “Selain pemerintah pusat, saya secara pribadi sudah menyampaikan ke Pemkot Oxford, kalau Pemerintah Pusat Inggris mendukung persatuan Indonesia dan kami akan melawan kampanye atau permintaan kemerdekaan Papua,” ujar Moazzam

Malik menambahkan, apabila Benny Wenda melakukan kampanye, dengan membuat websaite dan menggelar aksinya di inggris, tentunya itu tak bisa dilarang, sebab negaranya adalah Negara demokrasi.

“Benny Wenda sudah menjadi warga Negara Inggris, sehingga dia berhak dan diperbolehkan melakukan kampanye, protes dan apa saja, selama tidak melangar hukum. Namun, tak ada hubungan pemerintah Inggris dengan Benny Wenda,” kata Malik.

Lanjut Moazzam Malik, melihat situasi konflik yang belakangan ini terjadi di Kabupaten Mimika, Papua, Malik mengaku belum mendapat informasi yang akurat, bahkan selama ini hanya mendapat informasi itu di media massa.


“Kelihatannya di Timika saat ini panas dan perlu di tenangkan, kami mendukung usaha kepolisian dan TNI termasuk pemerintah untuk mengendalikan situasi itu,” tutup Moazzam Malik.
Share:

Sabtu, 18 November 2017

KKB Timika Dipukul Mundur Brimob, 357 Warga Diselamatkan


Knpbtimikanews, Jayapura – KKB Timika dipukul diserang Brimob, sebanyak 357 warga dapat diselamatkan, hal ini disamopaikan oleh Juru Bicara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)  Yason Sambon, Jumat kemarin (17/11).

Saat di konfirmasi melalui saluran telpon Yason Sambon mengatakan bahwa KKB dipukul mundur oleh Anggota Brimob yang datang dengan perlengkapan yang begitu lengkap.

“KKB mundur karena di kejar oleh Brimob dan kekuatan KKB tidak sebanding dengan mereka karena mereka memiliki semua kelengkapan dan senjata yang bagus,”ujar Yason.

Yason Sambon menambahkan bahwa pertempuran saat satuan Brimob melakukan penjemputan terjadi baku tembak yang mengakibatkan adanya korban dari KKB, namun ia belum mendapatkan data yang pasti, berapa jumlah yang terkena tembakan.

Lanjut Yason, KKB sudah mundur, Brimob dan TNI langsung menguasai wialyah Banti dan menyelamatkan warga masyarakat yang berada di Kimbeli.

Sampai saat ini pasukan KKB masih berada di wilayah Freeport, mereka masih berjaga-jaga bilamana ada serangan susulan dari Brimob maupun TNI, tutupnya.
Share:

Support

ad300