This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 29 November 2017

Lenis Kogoya : Final Papua Adalah Bagian Dari NKRI


Knpbtimikanews, Jayapura – Staf Khusus Kepresidenan Republik Indonesia Lenis Kogoya mengungkapkan bahwa Papua adalah Final bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada kesempatan tersenut Lenis Kogoya menjelaskan, sejarah membuktikan bahwa di tahun 1969 para Pejuang Pepera ingin Papua bergabung dengan indonesia dan tidak ada aksi untuk melepaskan diri atau ingin berdiri sendiri dari Indonesia.

“Ada sekitar seribu lebih tokoh adat Papua dari pantai, lembah, dan gunung turut dalam Pepera 69 itu, Kemudian hasil Pepera itu dibawa ke PBB selanjutnya disahkan. Ini artinya final, kita sudah merdeka," kata Lenis Kogoya

Lenis Juga menambahkan bahwa tanggal 01 Desember itu bukan hari Kemerdekaan Papua melainkan hari perjuangan Pepera yang dilakukan oleh para pejuang papua untuk kembalai ke Pangkuan Ibu Pertiwi.

“Tanggal 1 Desember tidak ada apa-apa, malah menjadi hari integrasi bagi Papua bergabung ke Indonesia, bukan terus dijadikan sebagai Hari Kemerdekaan Papua," ujar Lenis Kogoya

Lanjut Lenis bahwa Presiden RI Joko Widodo saat ini fokus untuk pembangunan di Papua dan sekarang mulai membangun sistem yang baik di Papua, agar Papua lebih maju dan terdepan.


"Saya bersama Bapak Jokowi sampai masuk-masuk ke wilayah pedalaman Papua, termasuk ke basis (KKB-red) di Nduga dan Puncak Jaya, itu kita lakukan untuk pemerataan kesejahteraan pendidikan juga kesehatan," pungkas Staf Khusu Kepresidenan RI Lenis Kogoya 
Share:

Selasa, 28 November 2017

Pendidikan Anak-Anak Kimbeli Butuh Perhatian Pemerintah


Knpbtimikanews, Timikia – Pdt. Jiman Magai mengungkapkan kepeduliannya terhadap penerus Generasi Muda Papua yang tinggal di Kampung Kimbeli dan Banti yang sekarang berada ditimika akibat ulah dari kelompok Krimilal Bersenjata (KKB).

Jiman Magai menjelaskan bahwa Papua butuh Generasi Muda yang berkualitas dan baik agar kedepan mereka bisa membangun Papua yang lebih maju dan bisa menjadi Provinsi yang memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Kami berharab agar Pemerintah Daerah maupun Pusat harus menindak keras Kelompok KKB karena mereka hanya menghancurkan dan membuat Generasi Muda Papua yang berada di Kampung Kimbeli dan Banti rusak atau terjerumus ke Jalan yang salah,”tutur Jiman Magai

Jiman Magai menambahkan bahwa, untuk sementara anak-anak kami berada di Timika akibat ulah dari KKB sehingga anaka-anak yang ingin mendapat pelajaran dan ilmu tidak bisa.

“Untuk itu kami meminta kepada Pemerintah Daerah Agar memperjuangkan Pendidikan buat anak-anak kami, dan juga harus segera membangun Sekolah dan Paud buat anak Usia dini agar mereka bisa mempunyai masa depan yang lebih baik,” pungkas Pdt. Jiman Magai.
Share:

Minggu, 26 November 2017

Senator Papua Tuding KKB Lakukan Kebohongan Besar Kepada Seluruh Masyarakat


Knpbtimikanews, Jayapura - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) asal Papua, Yanes Murib, menuding KKB melakukan pembohongan publik tentang situasi di Tembagapura Timika kepada seluruh rakyat Indonesia.

"Propaganda yang di lakukan sangat berlebihan, seakan - akan masyarakat yang ada di Banti dan sekitarnya dalam keadaan yang biasa saja,” kata Yanes Murib, Kepada Jubi, Senin (20/11/2017).
Ia menegaskan isu penyanderaan yang dituduhkan kepada KKB di Kampung Banti dan sekitarnya sangat benar. Bahkan ia menyebut informasi itu sebagai fakta nyata yang mengarah pada permainan politik yang dibuat oleh pemerintah asing.

"Perlu diketahui oleh masyarakat luas bahwa kondisi di lapangan memang seperti yang diberitakan oleh media nasional dan media lokal, ini semua adalah fakta nyata,” kata Yanes menambahkan.

Yanes membenarkan bahwa kejadian KKB yang menyandera, memperkosa, dan membunuh karena di sana ada istri anaknya sendiri, keluarga dan saudara sesukunya. Ia mempertanyakan tujuan dan kepentingan KKB membuat berita bohong kepada rakyat Papua.

Sebagai anggota DPD RI ia minta KKB berhenti melakukan pembohongan publik dan propoganda media lokal dan nasional.  Menurut Yanes, jika mau mengejar merdeka jangan mengorbankan masyarakat Papua.

Semenatara itu, Legislator Papua, Laurenzus Kadepa, menyatakan pihaknya mengakui penyanderaan terhadap warga di Kampung Banti dan Kimbeli dengan bukti video yang telah banyak di upload di media sosial.

"Kami sudah melihat bukti, baik dari rekaman video yang menunjukkan warga di Banti dan Kimbeli yang mana benar - benar disandera, dan apa tuntutan pihak yang menyatakan diri sebagai TPN dan OPM dalam masalah ini," kata Kadepa.

Kadepa menyatakan sejak awal bahwa dirinya sepakat jika warga di Banti dan Kimbeli disebut disandera, karena warga di wilayah itu tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar menggunakan telepon genggam atau cara lain bahkan untuk keluar dari kampungpun tidak diperbolehkan.


"Siang hari, warga mengaku tidak bias beraktivitas seperti biasa, tidak hanya itu pada malam hari mereka was - was," katanya.
Share:

DM TPN PB: KKB Harus Hentikan Pertikaian dan Harus Ada Perdamian


Knpbrimikanews, Jayapura - Juru bicara Dewan Militer Tentara Pembebasan Nasional Papua barat, (DM TPN PB) di luar negeri Jhona W Penggu mengatakan, Sekarang waktunya untuk berdamai dengan Bapa Elohim, berdamai dengan mama tanah, berdamai dengan rekan perjuangan, aparat keamanan dan mengaku dosa pribadi, dosa keluarga, dosa organisasi, dan dosa lainya seperti yang Nehemia lakukan sebelum melangkah untuk membangun tembok Jerusalem yang runtuh pada zaman itu. Nehemia 2:1-8. kepada media ini, (22/11/17).

Lanjut Jhona, Kita para pemimpin bangsa Melanesia di Papua Barat saat ini harus mengambil keputusan yang tegas membangun rekonsiliasi yang permanen dengan menetapkan aturan - aturan yang jelas untuk menutup semua kerja - kerja Politik, Diplomasi, Militer dan moral force untuk membangun TANAH PAPUA YANG DAMAI, MANDIRI DAN SEJAHTERA, serta Mari kita lihat Papua seperti YAHSUAH (Jesus) lihat Bukan seperti suku (kelompok) saya atau seperti orang Pulau, Pantai atau Gunung lihat, kata dia.


Saat untuk membangun wacana suda harus di hentikan sekarang adalah saatnya kita mengambil Langkah yang tegas untuk mengumumkan bahwa NKRI adalah tempat kami untuk kembali dan berjuang bersama dalam mewujudkan papua yang sesungguhnya.
Share:

KKB di Pukul Mundur Aparat Gabungan, Warga Kimbeli dan Utikini Merasa Aman


Knpbtimikanews, Timika - Masyarakat yang ada di wilayah Tembagapura saat ini merasa senang dengan adanya operasi militer, yang dilakukan oleh TNI-Polri.

Pasalnya sering terjadi kontak senjata yang dilakukan oleh KKB dibeberapa kampung di Tembagapura. Demikian disampaikan Juru Bicara Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Tembagapura (Komasi-Unte) saat menyampaikan peryataan sikap dihadapan Wakil Ketua I DPRD Mimika, Yonas Magal dan beberapa anggota DPRD Mimika, pada Kamis (23/11) di Kantor DPRD Mimika.

Kata dia, operasi militer yang dilakukan oleh TNI-Polri di Tembagapura dengan menggunakan senjata tempur dan bisa menguasai Kampung Kimbeli, Banti, dan Utikini membuat masyarakat menjadi tenang dan bahagia. Dimana masyarakat sipil yang ada di beberapa kampung tersebut, dapat memperoleh makanan, yang biasanya dibeli di Kota Tembagapura atau pedagang di daerah tersebut.

Sementara bahan makanan bantuan dari Pemda Mimika telah diberikan di MP 68, Tembagapura.

“Ditambah iklim tropis Tembagapura yang cukup tinggi, sehingga hasil tanaman umbi - umbian, petatas, keladi, sayur mayur butuh waktu 8-9 bulan untuk panen. Dan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari - hari. Tapi dengan adanya operasi militer, masyarakat bisa bergerak,” terangnya.

Selain itu, kata dia, sampai saat ini masyarakat asli dibeberapa kampung di Tembagapura sudah bisa beraktifitas. Ini karena masih dijaga ketat oleh aparat TNI-Polri. Dan sejak evakuasi warga sipil dan masyarakat pendulang, yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Lanjutnya, dan berdasarkan informaai via telepon dengan beberapa masyarakat asli. Pelaksanaan evakuasi masyarakat dilakukan atas kemauan masyarakat sendiri. Dimana masyarakat merasa terganggu akan dengan KKB yang melakukan aksinya dari kampung ke kampung.

Selain itu masyarakat mengambil sikap untuk pindah naik ke Kampung Opitawak. Dan keesokan harinya, masyarakat yang ada di Kampung Opitawak dikumpulkan dalam gereja, untuk diberi arahan dan imbauan. Setelah itu masyarakat kembali turun ke kampung masing - masing.

“Pasca evakuasi, sampai saat ini TNI-Polri masih bertahan di Kampung Banti dan beberapa kampung lainnya. Dan masyarakat merasa senang dengan hadirnya TNI-Polri yang menjaga desa mereka.” ungkapnya
Share:

Kelompok KKB Buat Onar Lagi di Tembagapura


Knpbtimikanews, Timika - Aksi penembakan kembali terjadi, dilakukan oleh Kelompok Kriminal Separatis TPN/OPM (KKS TPN/OPM) terhadap Kendaraan Dinas Kasatgas jenis LWB dengan No. Lambung 01-4618 di Mile – 61 Timika Kabupaten Mimika Papua.

"Kronologis kejadian, kendaraan Kasatgas pada saat mendaki tanjakan terlintas anggota dari kelompok Kriminal Separatis TPN/OPM (KKS TPN/OPM) berjumlah 6 orang  di tanggul samping jalan sambil menembaki kendaraan Kasatgas Amole dengan jarak tempuh Kurang lebih 25 Meter,".

Kasatgas Amole yang sedang melakukan pengecekan ke pos jaga dibeberapa tempat (Pos Satgas Amole) di jalur PT Freeport Indonesia, pos yang terdekat langsung melakukan bantuan pengejaran terhadap KKS TPN/OPM. Atas peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa atau luka-luka, namun kaca mobil pecah dan kap mobil lobang dalam kejadian ini.


"Masyarakat Tembagapura kembali mengecam tindakan KKS TPN/OPM itu dengan melakukan berbagai aksi protes kepada pemerintah. kami inginkan damai diatas tanah papua, bukan kekacauan. dan apa yang dilakukan oleh KKS TPN/OPM ini, kami minta agar pemerintah dapat mengejar dan membubarkan kelompok pengecut rakyat ini. mereka sangat menakuti-nakuti kami" kata ibu yemima di timika.
Share:

Kepala Suku Kimbeli Kelompok KKB Selalu Mengancam Warga


Knpbrimikanews, Timika - Kepala suku Kimbeli Bapak Kamaniel Waker, mengakui jika selama ini ada ancaman dari Kelompok TPN/OPM terhadap warga, baik yang berada di Kimbeli, Utikini maupun Banti.

Bapak Kamaniel mengatakan bahwa, sebelum aparat keamanan datang untuk menyelamatkan warga di kampung kami Kimbeli, mereka (TPN/OPM) melakukan kekerasan terhadap warga seperti memukul warga, merampas handphone warga dan melakukan pemerkosaan serta hampir melakukan pembunuhan.

Bapak Kamaniel disini berhadapan langsung dengan kelompok TPN/OPM dengan tegas menantang mereka kalau mereka mau membunuh OYAME (orang rambut lurus dalam adat mereka) maka TPN/OPM harus bunuh Bapak Kamaniel terlebih dahulu.

“kamu bunuh saya dulu, baru bunuh Oyame, kalau tidak kita perang,” kata Bapak Kamaniel kepada TPN/OPM.

Bapak Kamaniel juga menjelaskan bahwa, kalau mereka (TPN/OPM) tersebut juga adalah keluarganya, Bapak Kamaniel sudah siap angkat panah kalau mereka berani melakukan pembunuhan kepada OYAME.

Sebelumnya para OYAME ini ditampung oleh Bapak Kamaniel didalam rumahnya, karena mendapatkan kekerasan dan ancaman dari TPN/OPM. Beberapa hari terisolasi, para warga ini bergabung baik dari warga asli papua maupun pendatang (Oyame) di rumah Bapak Kamaniel, mereka makan bersama, mereka makan apa yang tersisa di kampung karena beberapa hari sebelumnya wilayah Utikini, Kimbeli dan Banti dikuasai Kelompok TPN/OPM.


Setelah aparat keamanan menyelamatkan mereka dari terisolasi yang dilakukan oleh TPN/OPM, Bapak Kamaniel bersama warganya saat ini tingal di penampungan sementara di Kota Timika, di Gedung Eme Neme Yauware.
Share:

Support

ad300